Sejatinya


Disini kepercayaan hilang
Disini hanya bercerita dengan hatiku
Disini terlihat seperti sangat butuh penolong
Disini air mata menetes perlahan
                             
                              Apakah salah jika aku berharap?
                              Ada yang mengerti aku, tanpa kujelaskan?
                              Bahkan jika aku tak punya alasan dibalik tangisku?!
                              Aku…………  hanya ingin menangis.

Aku bahkan menunggu kalimat
Aku tak ingin melihatmu menangis lagi”
Ada yg menghapus airmataku
Walau mereka mengaku temanku….
Tetap aku hanya butuh seorang saja
Yang benar SEJATINYA TEMAN

By: Ira Mawaddah

Nada Dedaunan Retak


Menari bersama dedaunan retak………
Bersama awan tergumpal putih cerah,
Wangi hembusan kehidupan melirihkan dipipi
Dan tanah entah mengapa bisa terkejut…….


Aku melangkah dalam lorong jalan,
Dengan pandangan ke dalam hayal
Menyiulkan nada indah…..
Meresapi kata dalam nada
Mengikuti alur kisah kesetiannya
Hingga tetesan perasaan jatuh basahiku….


Dihibur oleh rengekan suara jam
Tetap aku sama, ingin berteriak…..
Walau sambil menangis di tengah hujan
Namun hujan tak beri batasku menangis


Teringat jelas!
Aku belum berhenti bersedih….
Hingga kini,
Seperti apa itu??
Aku sesak!!



Faktanya aku hanyut,,
Dalam sendiri membawa kosongnya benteng hidup rapuh,
Tersembunyi dalam senyum….
Aku terus berusaha memilah
Sekian banyak rasa yang memerangi batin


Yakinlah, bahwa kamu juga seseorang yang berharga…
Bagai permata
Bagai embun
Bagai sebuah Cinta dalam sejarah !!!
Atau bagai sederhana nya dirimu –Ira Mawaddah-
Yang suatu saat ada seseorang menanti tawa dan tangisku
Tanpa harus ku cari di sudut jurang
Hiburku sendiri…


Hm, mungkin saat daun itu retak lagi…..
Dan menghiburku dengan nada kebahagiaan,
Atau……………..
Saat semua yang bersamaku tiada,
Mungkin ketika semua terulang
Dari awal lagi,,
Tanpa batas, tanpa akhir
Di kehidupan ku nanti….
SEMOGA, karena ALLAH lebih dekat dari urat nadimu ra, YAKIN LAH!! J


By: Ira Mawaddah, Jakarta. 3 Januari 2013

Janji Pada Waktu


Berdiri menyapa langit
Menengadah pada sang Fajar ufuk timur
Sinarnya terjerat di jemari pucatku

Perlahan terpejam seraya meresapi harumnya angin 
Berebut masuk ke dalam hati kosong ini
Lalu mencoba mengingat tiap alasan pada mesin waktu

Jika aku mengerjapkan mata, akan ku taklukkan dunia!
Rahasia terlarang oleh pemilik rasa sakit
Kau dan aku bisakah lebih lama mengenang apa yang dinamakan kenangan?
Sebentar saja, akan ku putar janji tanpa ada bukti wujudnya
Janji dimana di setiap waktu harus ada kita

Sudah sejauh ini, sudah sangat jauh, bahkan terlalu jauh.......
Dariku, sahabat yang mencari kesendirian dan senyuman......
Aku membuka mata, dan mengucapkan "Terima Kasih Tuhan, aku titip salam untuknya"

Karya: Ira Mawaddah, 20 Maret 2014

- Copyright © 2013 Rain Fairy's Words - Airayase - Modified by BioSphere - Designed by Djogzs -