Mini Story: "Kehilangan atau Kematian" (Part 1)
Seperti
biasa, aku duduk menyendiri di pojok paling belakang ruangan kelas di barisan
paling jauh dari pintu kelas. Menyedihkan memang, tapi beginilah keseharianku.
Hanya karena jumlah siswa di kelasku X-C ganjil, serta pada hari pertama masuk sekolah
saat MOS aku datang telat, semua kursi sudah terisi. Sisanya hanya kursi paling
belakang dan terlihat sangat suram—sama seperti orang yang menempatinya, aku.
Aku seperti tak kasat mata. Jauh dari peradaban dunia ini. Oke, aku memang
berlebihan pada kalimat sebelumnya. Aku hanya mengalami ini saja; tak ada yang
mau menyapaku, mengobrol atau berkelompok tugas denganku. Ya, aku memang sulit
bersosialisasi dan sangat pemalu untuk memulai percakapan. Jadilah aku seperti
ini, yang hanya akan terbebas dari kesendirian panjang selama pelajaran, saat jam istirahat dan saat pulang sekolah saja. Meski begitu, aku baik-baik saja dengan semua
ini. Aku sudah terbiasa dengan menjadi penyendiri. Sejak kecil, aku selalu
seperti ini. Aku tidak memiliki seorang sahabat—jangankan sahabat, teman-temanku
saja hanya datang saat mereka butuh bantuanku, haruskah kusebut mereka teman
palsu? Lebih baik dan simple kuanggap
mereka ‘bukan temanku’ saja kan?— seperti yang selama ini kuimpikan.
Kelasku
sudah sepi. Tunggu, sejak kapan sepi begini? Kemana orang-orang yang
mengasingkanku? Oh ternyata sudah pulang semua. Lho, mengapa aku tak sadar
kalau kini sudah jam pulang sekolah, bahkan sudah lewat dua jam? Aku juga lupa
harus menunggu kakakku di depan ruang osis. Jangan terkejut, kakakku adalah
bintang sekolah ini, ketua osis SMA Pusaka. Usia kami hanya selisih satu tahun.
Akan tetapi, perbedaan reputasi kami jauh sekali. Kak Davin berkilauan cerah
dengan para penggemarnya yang selalu menyapanya, sedangkan aku suram tidak
berwarna yang tidak dikenal banyak siswa. Omong-omong daritadi aku belum juga
sampai ke ruang osis. Ruang osis berada di lantai dua gedung C, sedangkan
kelasku di lantai tiga gedung B. Jarak kedua gedung itu tiga puluh meter. Haduh, sekolah tua ini memang luas dan
juga rumit! Terdapat tiga buah gedung yang terpisah. Gedung A, gedung B dan
gedung C. Gedung A dan B berbentuk seperti huruf L sedangkan gedung C berbentuk
seperti huruf U. Kalau dibayangkan ketiganya akan terlihat seperti sebuah
persegi yang terputus. Tiap gedung diperuntukkan khusus menurut fungsinya.
Gedung A untuk keperluan ekstra kurikuler. Gedung B untuk kegiatan
belajar-mengajar. Gedung C untuk administrasi sekolah yang terdiri dari; ruang osis, kantor guru, tata usaha, ruang
kepala sekolah dan wakil kepala sekolah, serta aula.
Aku
berjalan sendirian melewati koridor dari lantai tiga gedung B—kelasku terletak
di ruangan ketiga jika dihitung dari paling ujung—hingga kini aku menuruni
tangga di lantai dua menuju lantai satu. Gelap. Apa setiap selesai jam sekolah
lampu selalu dimatikan secepat ini? Mana kutahu, aku selalu pulang secepat
mungkin setelah mendengar bel pulang (Aku kan ingin secepatnya terbebas dari
kesengsaraanku di dalam kelas!). Aku melihat jam digital di tangan kiriku yang
angkanya menyala kalau di tempat gelap, 17:30. Padahal kan ini sudah terhitung
petang. Bukankah sewajarnya lampu dinyalakan, bukan malah dimatikan? Gawat.
Suasana jadi mencekam begini. Tangan dan kakiku gemetar karena mungkin tinggal
aku sendirian disini. Di sekolah tua nan gelap gulita! Demi semua makhluk imut seperti anak kecil dan kucing anggora! Percuma
saja sudah berhasil keluar dari gedung B, taman dengan rumput-rumput hijau yang
berada di tengah-tengah ketiga gedung disini juga tidak terlihat. Lampu taman
tidak dinyalakan. Aku terpaksa menghentikan langkahku dan duduk untuk
beristirahat di kursi kayu di taman. Curang. Mengapa aku seperti berada di
adegan film horor dan menjadi seperti peran utama yang tengah dikejar-kejar
hantu? Tiba-tiba saja leherku merinding.
Apa kalian
belum tahu mengenai insiden satu tahun lalu? Insiden tentang seorang anak kelas sepuluh yang
tiba-tiba menghilang entah kemana. Sebagian rumor mengatakan, korbannya adalah
seorang ‘siswa X’ yang berasal dari keluarga kaya yang hilang secara misterius.
Sebagian lagi mengatakan kalau rumor tersebut salah. Korbannya adalah
sahabatnya, yaitu ‘siswa Y’. Tidak ada yang tahu yang mana dari rumor-rumor
tersebut yang benar. Menurut pihak sekolah, kedua siswa itu menghilang sudah
setahun. Konon katanya, orang tua keduanya juga tidak tahu keberadaan anak
mereka hingga detik ini, apa anak mereka masih hidup atau sudah meninggal. Satu
misteri lagi, tak ada yang mengetahui keduanya perempuan atau laki-laki atau
bahkan perempuan dan laki-laki—tentu saja para orang tua si korban dan pihak
sekolah mengetahui jenis kelamin korban-korban tersebut. Hanya saja semua ini dirahasiakan. Mendadak kepalaku
pusing memikirkan semua misteri ini. Sebaiknya aku tak perlu mencampuri kasus
yang tidak kuketahui itu. Apalagi aku baru masuk ke sekolah tua bangka ini selama lima bulan. Aku
tak tahu apa-apa dan tidak berniat mencari tahu.
Aku merasa
ada seseorang di belakangku. Saat aku menoleh, tak ada siapapun. Mungkin
ketakutanku sajalah yang membuatku paranoid hingga merinding begini. Oh Ibu, Ayah, tolong do’akan aku agar tidak
dihantui roh jahat. Salah, aku seharusnya langsung berdo’a pada Tuhan. Oh Tuhan, tolong lindungi aku. Mana mungkin
siswa X atau siswa Y sudah menjadi hantu, kan? Kalaupun iya, mengapa dia menghantuiku?
Aku kan hanya seorang murid biasa yang tidak penting. Semakin aku merasakan ada
sesuatu di belakangku. Jangan-jangan aku akan menjadi korban beriku-
“Hiiiiiihihihihihiiiiiiiiiii………
Dorrr!!”, aku dikagetkan oleh kakakku lagi. Jantungku masih berlari maraton
akibat ketakutan setengah mati. Setelah kemarin baru saja diajarkan suara
kuntilanak oleh Ena, adik kami, dia langsung mempraktekkannya padaku dalam
keadaan yang sangat mendukung begini. Keterlaluan! Dari mana saja sih dia?
“Belom
pulang, Nel? Lagi ketakutan ya? hahahahahaha”, bisa-bisanya dia tertawa diatas
penderitaan adiknya!
“Gausah
ketawa diatas ketakutan gue deh kak! Lo darimana aja sih?”, jawabku kesal
dengan berkacak pinggang.
“Iyadeh
sori. Gue abis keliling sekolah setelah rapat selesai tadi. Kayaknya mati lampu deh. Lo gapapa kan, Nel? Nggak nabrak tembok atau
jatoh ditangga kan? Hmmpphhfftt”, sungguh hanya orang ini yang pantas menjadi
temanku. Yang bisa membuatku naik darah sebegini hebat. Dia bahkan masih sempat
menahan tawanya di situasi tidak lucu bagiku ini!
“Ketawa ya
ketawa aja kak! Gue sepenakut apa sih di mata sipit lo? Eh iya, cepetan yuk
pulang. Gue laper banget”, aku mencari alasan dengan berkata aku lapar sekali.
Karena sungguh, perasaanku tak enak berlama-lama disini.
“Bwahahahahaha
gausah nyari alasan gitu deh, Dek! Gue tau lo ketakutan. Tapi sori, gue mau
bersihin loker gue dulu. Lo punya senter ngga? Kalo mau pulang duluan terserah
sih…”, sial, dia tahu saja kelemahanku.
Mana berani aku berjalan sendirian lagi setelah dikagetkan seperti tadi. Jarak
dari taman ke gerbang sekolah lumayan jauh. Baiklah sepertinya Kak Davin
sengaja membuatku lebih lama disini. Akupun tak punya pilihan lain.
“Oke gue
ketakutan kalo pulang sendirian. Jadi gue terpaksa nungguin lo dulu deh. Emang
lo kira gue tau bakal mati lampu pake bawa-bawa senter segala? Eh, emang loker
lo kenapa, Kak?”, tanyaku penasaran. Asal tahu saja, biasanya Kak Davin tidak
sepucat ini. Apa dia ketakutan sepertiku? Tentu tidak. Dia pemberani.
Berbanding terbalik denganku.
“Di loker
gue banyak surat ancaman. Haters mungkin? Hmm, sebagian besar ditulis pake
cairan berwarna merah. Mana bau banget! Liat deh baju gue kena cairannya.”, Dia
menarik bajunya yang sudah tidak rapi lagi. Seragam putihnya sudah ternodai
bercak-bercak merah. Di kerah, di sederetan kancing dan di lengannya. Darah.
Sudah pasti itu darah. Apa dia tidak sadar kalau itu darah? Padahal dia seorang
hematophobia—istilah beken untuk
orang penderita phobia pada darah.
Sebaiknya aku tidak memberitahunya, bisa-bisa dia langsung pingsan dan aku
kebagian repot harus membopong tubuh besarnya pulang. Tambahan, aku sedang
ketakutan. Bagaimana cara membawa diriku yang ketakutan sambil membopongnya?
Sebaiknya aku menutup mulut.
“Haters? Ga
mungkin kakak gue yang unyu ini punya haters!”
“Siapa tahu
aja kan, Dek? Dalam hidup tuh pasti ada aja yang benci kita. Tapi gelap banget,
gaada cahaya sedikitpun.”
“Iyadeh om
bijak. Loker lo di depan kelas lo kan? Yuk berangkat! Gue ada jam digital nyala
ini kok, hehe “, Kak Davin makin pucat saja. Sedangkan aku masih ketakutan. Mana
cukup cahaya dari jam tanganku yang imut berwarna putih ini? Biarlah. Kami
memutar badan dan masuk ke gedung B lagi. Ruang kelasnya berada di paling ujung
lantai satu. Kami melewati koridor. Rambut panjangku yang diikat kuda menjadi
basah oleh keringat yang mengucur. Kakakku menggandeng tanganku seperti tahu
kalau aku sudah tidak kuat menahan takut lagi. Biar kuberi tahu satu fakta
mengejutkan; aku dan kakakku bukan saudara kandung. Tapi aku diperlakukan
seperti adik kandungnya. Orang tuanya juga sangat menyayangiku dan mendidikku
dengan baik. Aku lupa pada masa laluku. Tiba-tiba saja tring! Aku sudah berada di dalam keluarga Pak Karto—ayah kami.
Kami sudah
sampai. Saat aku berdiri di depan loker Kak Davin, cairan merah itu mengalir menembus
celah loker. Aku dengan sigap membuka loker, dan dengan ganasnya menyingkirkan
tumpukan kertas surat ancaman lalu mencari sumber alirannya. Ketemu juga!
Sungguh pemandangan yang pasti membuat kalian ingin secepat kilat berlari ke
toilet. Ada dua potong kaki kucing yang masih berdarah-darah segar di bawah
tumpukan kertas. Astaga! Aku jadi
mual melihat ini. Siapa sih yang melakukannya? Kucing kan hewan lucu, mengapa
ada orang yang tidak punya pri-kekucingan dengan memotong kakinya secara kejam
begini? Pasti orang abnormal yang melakukannya. Apa saat ini dunia sedang
krisis orang normal? Lalu kubaca salah satu surat dari surat ancaman yang
memenuhi loker kakakku—ditulis dengan pulpen merah serta dipenuhi bercak darah
yang mungkin disengaja atau hanya terkena darah mayat kaki kucing tadi.
Berhenti berlagak sok keren, dasar tukang adu domba!
Sebentar lagi lo dan orang di sekitar lo akan mendapat akibatnya!!
Apa maksudnya surat kaleng ini?
Memangnya kakakku memiliki domba untuk diadu? Rumah kami saja sederhana dan
tidak ada halaman penuh rumput, apalagi kandang domba! Dasar haters ngaco! Aku
jadi ingin mencubit pipi haters ini. Habis, gemas sekali sih. Sudahlah, tak
perlu pusing hanya karena surat kaleng yang tidak jelas pengirimnya siapa.
“Kak, lo
gapapa kan?”, aku menoleh ke sebelah kiriku, tubuhku hanya setinggi pundaknya.
Kurasakan tangan Kak Davin masih menggenggamku erat. Aku takut kalau dia akan
pingsan setelah terkejut melihat darah mengalir dari lokernya. Tanpa sengaja
aku menginjak darah-darah menjijikan itu.
“Gue………….
Gapapa kok, Dek.”, jelas jelas dia bohong. Kemudian, bruk! Oh tidak! Kakakku benar-benar pingsan! Baiklah aku harus kuat
membersihkan ini semua sendiri dan membawa kakakku pulang dengan selamat. Aku
harus berani, harus, harus! Semangat
Nela! Tuhan melindungimu.
“Kak! Bangun kak! Duh, gimana cara bersihinnya nih?
Mana gelap amat mau ke toilet ambil air, gue takut. Aniwon hear me? Helep me!”,
tanpa sadar aku malah berteriak memanggil orang dengan bahasa inggrisku yang
hancur. Kemudian aku mendengar suara langkah kaki yang berlari dari atas
kepalaku, mungkin di lantai dua. Suara langkah itu menuruni tangga. Semakin
dekat, dekat dan dekat. Oh Tuhan, apa itu
hantu siswa X dan Y? Atau orang lain? Bisa saja kan, masih ada orang selain
kami berdua? Daripada dicurigai apa yang sedang kami lakukan saat magrib
begini, aku menarik tubuh pingsan kakakku ke dalam kelasnya. Bersembunyi di
kursi paling belakang barisan keempat—seperti lokasi tempat dudukku. Bodohnya kamu, Nela! Aku lupa menutup
loker Kak Davin! Aku duduk di kolong meja pinggir dan Kak Davin yang pingsan di
bawah meja yang pojok lalu kuletakkan tasku di bawah lehernya seperti bantal.
Posisi dudukku seperti seorang penari saman. Lagi-lagi aku ceroboh. Aku baru
sadar saat melihat lantai ruang kelas XI-A ini. Aku meninggalkan jejak sepatuku
yang berlumur darah! Langkah kaki tadi sudah tidak kudengar lagi. Karena
penasaran, kulongokkan kepalaku, aku terkejut. Saat ini didepanku berdirilah
sosok dengan tubuh tinggi dan besar memegang cangkul………….
~Bersambung~
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------
Hai hai ketemu lagi kita ‘-‘)/
Hai hai ketemu lagi kita ‘-‘)/
Mana nih yang udah nggak sabar
nungguin kelanjutannya dari minggu lalu? Selamat membaca ya!
By the way, Minggu depan udah mulai
seru lho! Hohoho :D Oh iya, mohon kritik dan sarannya ya di kolom komentar,
semoga aku makin baik dalam mengarang. Makasih~
See you next time! Yeaayyyy~~~ ^^v
See you next time! Yeaayyyy~~~ ^^v
Sincerely,
Airayase Shiina ^^
Airayase Shiina ^^
Mini Story: "Kehilangan atau Kematian" (Prolog)
Jennifer Gunawan
Apakah ini sudah pagi?
Atau masih malam? Tak bisa kupastikan mana yang benar. Karena sungguh, aku
bahkan tidak bisa melihat apapun disini selain warna hitam tanpa cahaya.
Meskipun mataku sudah terbelalak bahkan sudah kukerahkan seluruh sisa tenagaku.
Kini aku hanya seorang diri. Terkurung serta kelaparan. Setelah insiden tadi—
atau mungkin kemarin atau seminggu yang lalu, aku tidak tahu sudah berapa lama
aku terkurung disini—aku benar-benar kalah telak. Aku hanya mengatakan yang
sebenarnya. Aku hanya membela orang yang tidak bersalah. Aku hanya melakukan
hal yang benar. Mereka tidak berhak memperlakukanku seperti itu! Tentu saja aku
tak hanya diam berpasrah begitu saja. Aku menendang dan mengerahkan jurus
andalanku—Aku kan mantan juara olimpiade karate tingkat nasional. Mereka semua
terkapar. Aku lalu pergi melarikan diri bersama orang yang kubela.
Entah bagaimana
caranya, aku bisa tak sadarkan diri. Mungkin dibius obat atau apalah. Tiba-tiba
saja aku dalam keadaan diseret secara paksa serta dengan kekejaman yang
melewati batas kemanusiaan oleh oknum-oknum sialan itu . Aku diseret seperti
seekor kambing yang hendak disembelih, leherku diikat dengan tali tambang.
Bedanya, kalau kambing ditarik dalam keadaan sadar dan berdiri, tapi aku dalam
posisi terbaring dan masih setengah sadar. Badanku tergesek tanah, masih bisa
kuingat betapa panasnya gesekan itu. Hampir kehilangan napas, leherku tercekik
lumayan kencang akibat tarikan itu. Aku tak jadi mati, pikirku. Kami sampai di
tujuan dan aku terbebas dari tambang jahanam itu. Kemudian aku dibawa masuk ke
ruangan ini. Lokasinya aku tidak tahu pasti. Mungkin masih area sekolah,
mungkin juga di sebuah gudang di negeri antah berantah. Pokoknya yang terlihat
sangat remang-remang dimataku. Ditambah kepalaku sangat pusing. Pasrah,
akhirnya aku menyerah juga.
Aku digendong oleh
seseorang yang ciri-cirinya kukenali ke sebuah ruang sempit sangat pas dengan
badan satu oang; seperti peti mati. Oke, awalnya aku menganggap semua ini
lelucon. Kalau tidak salah, sosok itu adalah cewek yang kubela. Apa yang dia
perbuat padaku? Bukankah seharusnya dia menyelamatkanku? Sosok itu tersenyum
padaku lalu berkata “Mau kuselamatkan?”. Akhirnya dugaanku salah, dia berniat
menyelamatkanku! Masih ada harapan untuk hidup! Aku menyadari bibirku tersenyum
mendengar tawarannya.
Namun, sosok itu
berubah menjadi menyeramkan dengan tawanya yang seperti nenek sihir. “Aku akan
menyelamatkan hingga menguburkan jasadmu dengan cara yang pantas setelah kau
mati di dalam peti ini!”, katanya dengan suara mencekam seperti seorang psycho. Hah?
Apa aku tak salah dengar? Dia sahabatku sejak kecil. Aku tahu dengan pasti dia
anak yang sangat baik, ceria dan penurut. Perilakunya sejak kecil
hingga sebelum insiden ini terjadi, dia tidak pernah berbicara kasar. Kenapa
saat ini aku tidak mengenalinya? Kau pasti bercanda kan, Ris? Ini bukan kamu
kan? Seketika airmataku mengalir. Tidak ingin mempercayai semua ini
karena sungguh menyakitkan. Tak ada harapan lagi bagiku.
Bodohnya aku baru
menyadari ini. Ternyata aku dijebak. Orang yang kubela hingga mati-matian
(omong-omong memang rasanya seperti diambang kematian, sebelum dimasukkan ke
peti ini, aku lebih dulu disiksa. Kakiku diikat, tangan diborgol, mulutku
disekap dan disumpal, lalu dipukul, dicambuk, tak puas dengan itu mereka
menyilet beberapa bagian tubuhku) malah bersekongkol dengan musuh. Oh
Tuhan! Apa semakin banyak pengkhianat di era sekarang ini? Alih-alih
mengkhawatirkan keadaan tak berdayaku, aku malah memikirkan sahabatku yang
berkhianat. Lagipula peduli amat dengan keadaanku. Toh tak akan ada yang akan
menangisi kematianku. Tidak sahabatku itu ataupun keluargaku
yang tidak peduli padaku. Yang jelas aku dalam kesedihan yang parah dan
tenggelam dalam luka dalam, aku tersesat tak tahu arah jalan pulang, aku……..
Stop! Kenapa aku malah menyanyikan lagu yang sedang hits itu? Ternyata kepalaku
sudah tidak beres.
Oh no! Perutku lapar sekali. Hebatnya, aku bisa bertahan
tanpa makan. Anggap saja ini puasa. Hihihi. Ketika semua orang pergi
meninggalkanku, Tuhan masih menyayangiku! Aku menangis terharu saat ini
menyadari keajaiban dari Tuhan. Syukurlah aku masih bisa sadar setelah pingsan
cukup lama yang kukira akhir hidupku. Yah, apa yang bisa kulakukan sih dengan
keadaan lemah seperti sekarang ini? Kusadari badanku menggigil. Apa ruangan ini
AC nya sangat dingin? Seingatku, saat aku diseret kesini tidak sedingin ini.
Justru malah panas, pengap dan berbau debu. Tak heran, karena ini mungkin
ruangan tak terpakai. Mana mungkin pemiliknya memasang AC disini kan? Baiklah
bukan waktunya untuk meributkan AC yang tergolong misterius ini.
Darah-darahku yang
belum lama mengalir begitu deras dikaki dan tanganku sudah tidak ada. Luka
bekas silet dan cambukan juga merapat. Ternyata benar! Aku diselimuti es balok
dan es kecil-kecil yang banyak di seluruh tubuhku. Tak ada ruang untuk
bergerak. Darah di tubuhku mulai beku! Oh no! Omaygaaatt! Aku
akan diubah menjadi mayat beku! Badanku semakin tak bisa bergerak. Jen,
kamu harus bertahan hidup! Kamu harus menanyakan semua ini pada
sahabatmu. Yah, begitulah kata hati kecilku, bagaimanapun juga Risa
adalah sahabatku yang paling berharga. Dialah orang yang paling
mengkhawatirkanku melebihi kekhawatiran keluargaku. Walaupun dia mengkhianatiku
entah untuk alasan apa, aku tak bisa melupakan semua hal indah bersamanya
begitu saja. Aku tetap ingin menjadi sahabatnya. Namun seluruh tubuhku kini
sudah sangat kaku. Inilah batasku…………………..
~Bersambung~
---------------------------------------------------------------------------------------------------
Huaaaaa akhirnya jadi juga bikin cerita mini atau mini
story. Maaf ya kalo kurang bagus ceritanya :( Apa daya, aku masih pemula nulis
yang kayak gini. Hohoho :D
Baru kepikiran segini ceritanya hiks *nangis dipojokan
sambil makan kue* Pokoknya ceritanya harus tuntas nih pffttt :D Tunggu
kelanjutannya ya kalo aku sempat ngeblog lagi, eh kalo ada internet sih
(maklum, aku cuma fakir bandwith jadi numpang gitu nyiahahahahaha~~ :v)
Tinggalkan komentar ya kalo udah baca ><
Selamat Membaca dan selamat penasaran :p
See you next time!
Sincerely,
Airayase Shiina ^^
Berhargakah Kami
Tiada ke-aku-an
Kami melangkah dalam kebersamaan
Berjanjilah wahai tekad!
Masa depan itu pasti
Perpisahan tak akan lari
Hari ini pergi
Dalam nyata seuntaian memori............
Mungkin dapat diingat selamanya,
Lalu terlupakan sedetik kemudian,
Air mata kami berharga!
Perjuangan kami panjang!
Semangat kami saksinya!
Biarkan kami menari dan tertawa tanpa mentari......
Tanpanya pun kenangan ini hidup!
Di hati seseorang nan kesepian,
Semua bilang tak mau terlupakan....
Seberapa berharganyakah senyuman kita??
Kawan, kisah CLASSIX ini sejarah metamorfosis kita,
Berusaha, bersyukur, gagal, galau, takut, tangis, marah, perasaan beragam bertemu, bertolak jua...........
Gapai dirimu! Ukir kenangan termanismu!
Masa lalu dan masa depan akan terhubung oleh hari ini........
Video ini ada demi melirihkan kenaifan canda kita!
Air mata rindu mengikuti alurnya
Mengingat satu per satu dan semua.........
Atau mungkin dilupakan dengan sengaja!?
Tuhan berkata kita akan bahagia.............
Namun, kesedihan ikut mengancam....
Janjilah satu hal: Suatu hari kita akan bertemu, tertawa lagi sambil mencaci maki,
Dan aku bisa melihat ketulusan air mata kalian!
"Bukankah ini............ wajah kami saat itu?"
"Sudah 10 tahun yang lalu"
"Bukankah baru setahun lalu?"
"Bukankah baru kemarin?"
"Aku ingin mengulang semuanya, masa remajaku"
Seolah masih terngiang baru terjadi kemarin..........
Karena kami akan berpegangan tangan dan memeluk kenangan ini
Katakan dengan lantang pada dunia, siapa kita??
We are CLASSIX J
By: Ira Mawaddah, Jakarta 18 November 2013. Puisi perpisahan kelas :D
Kuning, Kuning, Kuning Keemasan
Mungkin tulisan tak akan cukup
Coba buatmu memahami
Satu arti dalam keteduhan diri
Bertumpu pada satu alasan
Berpusat pada satu keinginan mustahil
Bergema pada lorong pintu hati
Bergembira pada kenangan KUNING KEEMASAN
Berprinsip pada sesuatu yang suci, CINTA
Termotif dari sebuah pertemuan singkat
Serta perkenalan bagai air
Mengalir begitu deras, deras dan semakin.....
Ketika air itu menari dan berpindah
Malah terjatuh dari sudut kesedihan terpahit
Oh......
Hari itu!!Apa aku harus meraung??
Apa aku harus berpikir keras??
Hari terindah....
Hari sesak hati ini....
Sampai pada akhirnya
Aku menitihkan suara dan jeritan...
Sebagai "AIR MATA"
Berharap hanya kamu yang merubah hari ini menjadi lebih baik lagi...
By: Ira
Mawaddah, Jakarta, 12 Desember 2012
Sejatinya
Disini hanya bercerita dengan hatiku
Disini terlihat seperti sangat butuh penolong
Disini air mata menetes perlahan
Apakah salah jika aku berharap?
Ada
yang mengerti aku, tanpa kujelaskan?
Bahkan jika aku tak punya alasan dibalik tangisku?!
Aku…………
hanya ingin menangis.
Aku bahkan menunggu kalimat
“Aku tak ingin melihatmu menangis lagi”
Ada yg menghapus airmataku
Walau mereka mengaku temanku….
Tetap aku hanya butuh seorang saja
Yang benar SEJATINYA
TEMAN
By: Ira Mawaddah
Nada Dedaunan Retak
Menari
bersama dedaunan retak………
Bersama
awan tergumpal putih cerah,
Wangi
hembusan kehidupan melirihkan dipipi
Dan
tanah entah mengapa bisa terkejut…….
Aku
melangkah dalam lorong jalan,
Dengan
pandangan ke dalam hayal
Menyiulkan
nada indah…..
Meresapi
kata dalam nada
Mengikuti
alur kisah kesetiannya
Hingga
tetesan perasaan jatuh basahiku….
Dihibur
oleh rengekan suara jam
Tetap
aku sama, ingin berteriak…..
Walau
sambil menangis di tengah hujan
Namun
hujan tak beri batasku menangis
Teringat
jelas!
Aku
belum berhenti bersedih….
Hingga
kini,
Seperti
apa itu??
Aku
sesak!!
Faktanya
aku hanyut,,
Dalam
sendiri membawa kosongnya benteng hidup rapuh,
Tersembunyi
dalam senyum….
Aku
terus berusaha memilah
Sekian
banyak rasa yang memerangi batin
Yakinlah,
bahwa kamu juga seseorang yang berharga…
Bagai
permata
Bagai
embun
Bagai
sebuah Cinta dalam sejarah !!!
Atau
bagai sederhana nya dirimu –Ira Mawaddah-
Yang
suatu saat ada seseorang menanti tawa dan tangisku
Tanpa
harus ku cari di sudut jurang
Hiburku
sendiri…
Hm,
mungkin saat daun itu retak lagi…..
Dan
menghiburku dengan nada kebahagiaan,
Atau……………..
Saat
semua yang bersamaku tiada,
Mungkin
ketika semua terulang
Dari
awal lagi,,
Tanpa
batas, tanpa akhir
Di
kehidupan ku nanti….
SEMOGA,
karena ALLAH lebih dekat dari urat nadimu ra, YAKIN LAH!! J
By:
Ira Mawaddah, Jakarta. 3 Januari 2013



